CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Jumat, 06 Mei 2011

Menulis Puisi Bebas dengan Memperhatikan Unsur Persajakan


Menulis Puisi Bebas
Menulis puisi itu sulit? Benarkah? Tidak benar. Bukankah kalian telah berlatih membuat puisi bebas pada pelajaran lalu. Kalau dulu kalian menulis puisi bebas dengan memperhatikan pemilihan kata-katanya, sekarang dengan memperhatikan persajakannya.

1.      Artikulasi: persamaan konsonan
Contoh: Berkata benar ibadah karena lidah punya Allah
 Bukan beta bijak berpura

2.      Asonami: persamaan vokal
Contoh: Gerimis pada jiwa terbakar luas sabana
 Tanah terbuka menemui udara dari lembah utara

3.      Rima awal: persamaan bunyi pada awal larik (baris)
Contoh: Angin bangkit bulan Agustus
 Adalah kebangkitan harapan
 Atas kesia-siaan putus asa

4.      Rima tengah: persamaan bunyi pada tengah larik/baris
Contoh: Jika aku seorang pujangga
 Maka aku tulis sebuah syair
 Jika aku seorang kelana
 Maka aku ucap seuntai zikir

5.      Rima akhir: persamaan bunyi pada akhir larik/baris
Contoh: Kemanakah pergi
 Mencari api
 Ketika bara hati
 Padam tak berarti

Bukan Beta Bijak Berperi

Bukan beta bijak berperi,
Pandai mengubah madahan syair,
Bukan beta budak negeri,
Mesti menurut undangan mair.

Sarat saraf saya mungkiri,
Untai rangkaian seloka lama,
Berai buang berai singkiri,
Sebab laguku menurut sukma.

Susah sungguh saya sampaikan,
Degup-degupan di dalam kalbu,
Lemah laun lagi degungan,
Matnya digamat rasaian waktu.

Sering saya susah sesaat,
Sebab madahan tidak nak datang,
Sering saya sulit menekat,
Sebab terkurang lukisan memang.


Bukan beta bijak berlagu,
Dapat melemah bingkaian pantun,
Bukan beta berbuat baru,
Hanya mendengar bisikan alun.

(Rustam Effendi)

Sumber: ( Maryati; Sutopo. 2008. Bahasa dan Sastra Indonesia 2. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional. Hal 61 )


Menulis Puisi dengan Memperhatikan Diksi dan Rima

Menulis puisi sulit? Kata siapa? Penyair Taufik Ismail mematahkan pendapat tersebut. “Menulis puisi itu susah dan hanya orang berbakat saja yang mampu. Pendapat lama itu dilebihlebihkan. Hal tersebut, tidak sepenuhnya benar. Menulis puisi tidak sesukar anggapan itu. Bahkan, yang lebih penting bahwa menulis puisi itu menyenangkan,” kata Taufik Ismail. Nah, kali ini secara menarik dan mudah, kamu akan diajak berlatih menulis puisi dengan model Bimbingan Penulisan Puisi Taufik Ismail, yang menarik. Asyik bukan?

1. Menulis Puisi dengan Memperhatikan Diksi dan Rima
Dalam menulis puisi kita perlu memperhatikan penggunaan diksi (pilihan kata) dan rima (persamaan bunyi) dengan tepat dan menarik. Penggunaan diksi yang tepat akan menjadikan puisi berkesan kuat dan menarik. Dengan adanya rima, puisi menjadi merdu atau bermusikalitas saat dibaca.
Saat kamu menulis puisi, tulis saja ide-ide yang kamu miliki dalam baris-baris puisi. Setelah naskah puisi selesai, barulah kamu perbaiki atau gantilah diksi yang dirasa kurang tepat dengan diksi yang lebih baik. Penggantian diksi perlu pula mempertimbangkan rima yang ditimbulkannya.

Perhatikan contoh puisi karya Renny Marharmy siswa SMA 1 Rancah 9 Ciamis, Jawa Barat berikut!

Sapa Rindu
Karya Renny Marhanny

Ketika rindu kian berat menyapa
Dan wajahmu bergayut di bulu mata
Kalori dalam diri hilang entah berapa
Terdiam, terhuyung betapa nista
Namun kau tetap kukuh teguh
Membuat persendianku runtuh
Dan serat hati menjadi rapuh
Tak tahukah di matamu rinduku berlabuh?

Dalam puisi “Sapa Rindu” di atas, Renny Marhanny telah menggunakan diksi dan rima yang tepat dan menarik. Renny telah dengan tepat memilih kata menyapa bukan hadir atau datang pada baris ketika rindu kian berat menyapa (baris 1). Pada baris 2 saat membayangkan wajah kekasih penulis memilih diksi bergayut di bulu mata bukan membayang di mata. Tentunya diksi yang dipilih Renny sangat indah dan menarik. Puisi “Sapa Rindu” juga penuh rima yang saat dibaca memberikan gema dan suasana hati penyairnya, yakni kerinduan. Rima yang tampak menonjol dalam puisi tersebut tampak pada baris Namun kau tetap kukuh teguh (baris 5), runtuh (baris 6), (baris 7), rinduku berlabuh (baris 8).

Sumber : ( Setyorini, Yulianti; Wahono. 2008. Bahasa Indonesia Untuk SMP kelas VIII. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional. Hal 98 )
 
Menulis Puisi Bebas dengan Memperhatikan Persajakan

Kata-kata yang dirangkai menjadi puisi memiliki kekuatan yang berbeda dengan bentuk penulisan naratif lainnya meskipun keduanya mengungkapkan topik yang sama. Kekuatan puisi, di antaranya, berada pada kekuatan persajakannya, di samping makna dan ketepatan pilihan kata.
Pada kesempatan kali ini kamu akan belajar mengenali, membandingkan, dan menemukan kekuatan persajakan pada puisi bebas.
Untuk mewujudkannya, aktivitas pembelajaran yang harus kamu lakukan untuk menguasai kompetensi menulis puisi bebas dengan memperhatikan persajakan adalah (1) mengenali puisi, (2) membandingkan puisi, (3) menemukan kekuatan persajakan, dan (4) mengerjakan latihan menulis puisi. Pada bagian akhir, kamu akan menjumpai kegiatan refleksi.

1.      Mengenali Puisi

Di samping beberapa puisi yang sudah kamu pelajari di atas, kamu dapat membaca puisi tentang Indonesia yang disampaikan dengan sangat baik berikut.

Kembalikan Indonesia Padaku

Taufiq Ismail
Kepada Kang Ilen

Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,
Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 watt, sebagian berwarna putih
dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,
Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam dengan bola
yang bentuknya seperti telur angsa,
hari depan Indonesia adalah Pulau Jawa yang tenggelam karena seratus juta
penduduknya,

kembalikan
Indonesia
padaku

Hari depan Indonesia adalah satu juta orang main pingpong siang malam
dengan bola telur angsa di bawah sinar lampu 15 watt,
Hari depan Indoenesia adalah Pulau Jawa yang pelan-pelan tenggelam lantaran
berat badannya kemudian angsa-angsa berenang-renang di atasnya,
Hari depan Indonesia adalah dua ratus mulut yang menganga, dan di
dalam mulut itu ada bola-bola lampu 15 watt, sebagian putih dan
sebagian hitam, yang menyala bergantian,
Hari depan Indonesia adalah angsa-angsa putih yang berenang-renang sambil
main pingpong di atas pulau Jawa yang tenggelam dan membawa
seratus juta bola lampu 15 watt ke dasar lautan,

Kembalikan
Indonesia
padaku

Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam dengan bola yang
bentuknya seperti telur angsa
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam karena seratus juta
penduduknya,
Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 watt, sebagian berwarna putih
dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,

Kembalikan
Indonesia
Padaku

Topik tentang desa juga dapat ditulis menjadi puisi yang menarik oleh penyair Madura, D. Zawawi Imran, seperti di bawah ini.

Desaku

Di jembatan ini kedengar bisik sejarah
Aku tak tahu, siang ini manakah yang lebih berkobar
mataharikah atau darahku
yang menderaskan makna air sungai
sebelum tiba di gerbang muara?
Selamat datang, tamu dari kota!
Jangan terkejut menjabat tanganku kasar
lantaran setiap hari mengolah zaman
Nanti sore kuantar engkau ke kebun
Nikmatilah buah-buahan yang ranum bersama mimpiku
Inilah sawahku, daunan kungkung sedang menghijau
Kecebong dan lele mondar mandir
di sela semanggi dan batang padi
Di sini kupetik sejuta kasih sayang, dan kutaburkan
ke mana bulan ’ngusapkan tangan
Seekor bangau hinggap di punggung kerbau
seakan mengajar kita dengan hakikat persahabatan
Kalau nanti hasil panen kuantar ke kota
yang kuminta padamu bukan tanda penghargaan
Namun setangkai bunga putih pengertian
Dari jembatan ini kulihat rahmat yang bermekaran
keemasan di hamparan tanah sejarah
Kulecut betis sukmaku
Disambut gemuruh di ubun mega;
Senyum hari depan yang huragu

Rogojampi 1967

Sumber : ( Laksono, Kisyani; Yulianto, Bambang; Harsiati, Titik; Nurhadi. 2008. Bahasa Indonesia Sekolah Menengah Pertama Kelas VIII. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional. Hal 171 )


Menulis Puisi Bebas

Menulis puisi sebenarnya tidak sukar. Menulis puisi sebenarnya tidak sesulit menulis karya sastra yang lain. Dalam menulis puisi, penulis tidak terikat oleh aturan-aturan tertentu. Meskipun demikian, dalam menulis puisi, kita harus memperhatikan pilihan kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaan serta memperhatikan persajakan atau persamaan bunyi.
Persajakan yang baik akan menimbulkan efek keindahan. Persajakan atau persamaan bunyi dalam puisi itu dapat berupa persamaan konsonan (aliterasi), persamaan vokal (asonansi), persamaan bunyi akhir, persamaan bunyi tengah, persajakan vertikal dan persajakan horizontal.

Perhatikan contoh-contoh di bawah ini.

a. Asonansi dan Aliterasi
Perhatikan kutipan puisi Chairil Anwar berikut ini!

(1)  AKU
Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
……………………..
Chairil Anwar, Maret 1943

(2)  AKU
……………………………..
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
..................................
Chairil Anwar, Maret 1943

Pada kutipan (1) di atas dapat kamu temukan adanya persamaan bunyi u pada kata waktuku, kumau, merayu, dan itu. Persamaan bunyi vokal seperti itu diebut asonansi. Pada kutipan (2) dapat kamu temukan persamaan bunyi ng pada kata binatang, jalang, dan terbuang. Persamaan bunyi konsonan seperti itu disebut aliterasi.

b. Rima Awal dan Rima Akhir
Perhatikan kutipan berikut ini!

(1)  BERKAWAN HUJAN
mungkin aku mesti berkawan hujan
membiarkan binar air datang
menyapu letih perjalanan
biar aku kuyup
mengigil dengan tubuh yang gemetar
…………………………………
Alex Nainggolan, Jakarta, 27 Desember 2006

(2)  TUTUP TAHUN
kini kujadwal ulang seluruh tubuh
menginap setahun di tempurung waktu
desember tertawa
renyah dan basah dalam hujan
................................................
Alex Nainggolan, Jakarta, 27 Desember 2006

Pada kutipan (1) di atas kamu menjumpai persamaan bunyi di awa kata, yaitu bunyi me pada kata membiarkan, menyapu, dan menggigil. Persamaan bunyi atau persajakan tersebut dikenal dengan rima awal. Pada kutipan (2), kamu akan menjumpai persamaan bunyi uh di akhir kata yaitu pada kata seluruh dan tubuh. Selain itu, kamu juga dapat menemukan
persamaan bunyi ah pada kata renyah dan basah. Persajakan pada akhir setiap kata seperti itu disebut rima akhir.

Sumber: ( Suwandi, Sarwiji; Sutarmo. 2008. Bahasa Indonesia Bahasa Kebanggaanku 2. Jakarta: Pusat Perbukuan, Depertemen Pendidikan Nasional. Hal 190 )


Menulis Puisi Bebas dengan Memerhatikan Unsur Persajakan
Puisi merupakan salah satu karya sastra yang merupakan untaian kata-kata yang setiap katanya memiliki kandungan makna yang padat. Selain menarik isinya, puisi juga menarik apabila dibacakan dengan cara deklamasi. Perlu kalian ingat bahwa menulis puisi bukanlah merupakan hal yang sulit jika kita memang berniat benar. Hal ini disebabkan setiap orang memiliki kemampuan berbahasa serta memiliki nuansa keindahan meskipun antara seorang dengan orang lain berbeda. Hal terpenting dalam penulisan puisi adalah memerhatikan syarat-syarat puisi. Syarat-syarat puisi tersebut meliputi persajakan, perimaan, diksi, serta kebaitan. Perhatikan puisi di bawah sebagai contoh bahan referensi kalian dalam menulis puisi.

Masih Tersisa
Karya: Taufiq Abi Sabda

Masih tersisa
tanah permai udara nan sejuk
pagi yang berkerlip embun di hamparan kehijauan
dan senja pantai berkerudungkan lembayung
di antara tangis terpendam
dan duka yang timbul tenggelam

Masih tersisa
rindu kedamaian dan hasrat cinta
sumpah sesaudara, ikrar seduka dan cita
seikat dalam hati, sejiwa dalam asa
di antara sayatan tikai yang amat tajam
dan lelahnya menitikkan darah dendam

Nun jauh dalam hutan dan sisa ladang
tonggak-tonggak tunas tiasa kukuh tegak
menjadi tiang harap
penyangga lara pada puji dan doa
di antara berjuta juta batang yang terus bertumbang
dan lalu bermigrasi entah ke mana

Nun bentang di balik hamparan ombak
terumbu menari-nari, eksotik dan mesra
letik-letik ikan menggelayut berpaut jala
menebar senandung hidup dan rasa
di antara liarnya pukat dan riak
yang menjelma dalam hitungan-hitungan angka

Masih tersisa
untuk selalu kita jaga

Solo, 2005

Puisi yang indah dapat ditulis dengan gaya bahasa yang tepat. Gaya bahasa ini ditentukan oleh ketepatan dan kesesuaian pilihan kata. Gaya bahasa yang tepat memengaruhi terbentuknya suasana dan kemenarikan puisi. Selain itu, pilihan dan kesesuaian kata dapat menimbulkan nada kebahasaan, yaitu rangkaian kata yang disertai penekanan sehingga menghasilkan keindahan yang tinggi.

Perhatikan contoh berikut!

di antara tangis
terpendam
dan duka yang timbul
tenggelam.

Dalam kedua baris puisi di atas, ada semacam  gaya bahasa yang berwujud perulangan bunyi vokal dan konsonan /am/ yang sama. Tujuan dari penggunaan gaya bahasa ini adalah untuk memperoleh efek penekanan dan keindahan. Inilah yang biasa disebut unsur persajakan.

Sumber: ( Wirajaya, Asep Yudha; Sudarmawarti. 2008. Berbahasa dan Bersastra Indonesia 2. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional. Hal 171 )


Menulis Puisi Bebas dengan Memperhatikan Unsur Persajakan
Pada materi berikut pasti kamu tidak sabar untuk kembali menulis puisi. Kali ini kita menulis puisi dengan memerhatikan unsur persajakan agar memunculkan efek keindahan saat dibaca.
Keindahan sebuah puisi didukung oleh unsur persajakan. Unsur-unsur tersebut, di antaranya, jumlah larik pada setiap bait, jumlah kata pada setiap larik, jumlah suku kata pada setiap larik, rima, dan irama. Dengan persajakan yang tertata dengan baik, sebuah puisi akan makin terasa indah saat dibacakan atau dilantunkan.

Perhatikan cuplikan puisi berikut!

Padamu Jua

Habis kikis
segala cintaku hilang terbang
pulang kembali aku padamu
seperti dahulu

Kaulah kandil kemerlap
pelita jendela di malam gelap
melambai pulang perlahan
sabar, setia selalu.

Satu kekasihku
aku manusia
rindu rasa
rindu rupa.

Di mana engkau
rupa tiada
suara sayup
hanya kata merangkai hati

Engkau cemburu
engkau ganas
mangsa aku dalam cakarmu
bertukar tangkap dengan lepas
sayang berulang padamu jua
engkau pelik menarik ingin
serupa dara di balik tirai

Kasihmu sunyi
menunggu seorang diri
lalu waktu - bukan giliranku
mati hari - bukan kawanku...

Amir Hamzah

Keindahan persajakan puisi tersebut, di antaranya, bisa kita rasakan pada pengulangan suku kata terakhir pada larik 5 dan 6, yakni kemerlap dan gelap. Pengulangan kata dan bunyi di tiap akhir larik pada bait kelima juga menimbulkan keindahan, yaitu Engkau cemburu/ engkau ganas/mangsa aku dalam cakarmu/bertukar tangkap dengan lepas.

Sumber: ( Kramadibrata, Dewaki; Indrawati, Dewi; Durianto, Didik. 2008. Terampil Berbahasa Indonesia 2. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional. Hal 185 )


2 komentar:

afida wardani

ada yang lain ??

AsianBrilliant and SmartSukses

Teman - teman kesulitan untuk Belajar Komputer karena kesibukan? kini kami memfasilitasi kursus komputer jarak jauh via online, silahkan kunjungi website kami di asianbrilliant.com, Master Komputer, Kursus Online, Kursus Jarak Jauh, Kursus Programming, Kursus Desain Grafis, Ilmu Komputer

Ayah, Bunda..butuh guru untuk mengajar anak-anak dirumah ? kami memfasilitasi 1000 guru untuk anak-anak ayah dan bunda datang kerumah, silahkan kunjungi website kami di smartsukses.com, Bimbingan Belajar, Les Private, Les Privat, Les Private Mata Pelajaran, Guru Datang Ke Rumah, Guru Private

Poskan Komentar